Demam Domino hingga Lupa Waktu Landa Warga, Ini Upaya yang Ditempuh Ulama dan Dinas Syariat Islam Banda Aceh

Ulama dan DSI Banda Aceh menyikapi demam domino warga
Ilustrasi - Permainan domino online yang akhir-akhir ini melanda warga. | Foto NET

Demam Domino hingga Lupa Waktu Landa Warga, Ini Upaya yang Ditempuh Ulama dan Dinas Syariat Islam Banda Aceh

DotBerita | Banda Aceh – Permainan domina online melalui gadget akhir-akhir ini melanda hampir di seluruh daerah di Aceh. Karena keasikan, permainan tersebut dinilai hanya membuang waktu tanpa manfaat, bahkan menjurus perbuatan dilarang.

Kepala Dinas Syariat Islam (DSI) Kota Banda Aceh, Alizar, Kamis (6/7/2020) meminta Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Kota Banda Aceh menerbitkan rekomendasi dalam bentuk tausiah kepada Pemerintah Kota (Pemko) Banda Aceh agar mengatur regulasi penindakan para pemain domino.

Hal itu disampaikan Alizar pada acara audiensi bersama antara MPU Banda Aceh dan DSI Banda Aceh yang melibatkan Majelis Adat Aceh (MAA) serta Satuan Polisi Pamong Praja dan Wilayatul Hisbah (Satpol PP/WH) di Aula MPU Kota Banda Aceh.

“Jadi kita harap MPU mengeluarkan sebuah tausiah tentang hukum bermain domino, sehingga pemko mengeluarkan kebijakan yang menjadi landasan petugas sebelum bertindak,” katanya.

Menanggapi hal tersebut, Ketua MPU Kota Banda Aceh, Tgk Damanhuri Basyir berencana akan mengeluarkan tausiah kepada pemko setempat dalam waktu dekat ini.

“Jadi kita nanti hanya membuat tausiah, lalu kita sampaikan kepada wali kota untuk mengeluarkan kebijakan. Kebijakan itulah yang bisa menjadi pegangan bagi petugas di lapangan,” sebut ulama di Banda Aceh ini.

Pihaknya berharap, kebijakan yang akan ditetapkan nantinya dapat memberi dampak positif bagi warga kota. Karena menurutnya, permain domino rentan menjurus ke perjudian dan dapat menimbulkan keresahan di tengah masyarakat.

Menjurus haram

Tgk Damanhuri menuturkan, dari aspek hukum Islam, segala perbuatan walaupun perbuatan tersebut halal, tetapi menjurus kepada perbuatan yang diharamkan, maka hukumnya adalah haram.

“Untuk itu, kita mengambil langkah dan sikap mestinya domino dihilangkan di Banda Aceh,” tegasnya.

Tgk Damanhuri juga mengimbau masyarakat agar menggunakan waktu luang untuk perbuatan-perbuatan yang baik, seperti membaca, diskusi, atau berkumpul bersama keluarga.

“Itu jauh lebih baik, daripada membuang masa (waktu) di warung kopi bermain domino, dan apalagi sampai meninggalkan sholat,” terangnya.

Sementara itu, Wakil Ketua Majelis Adat Aceh Kota Banda Aceh, Mulyadi Thaib, menyatakan pihaknya sepakat agar domino lebih baik ditiadakan karena dinilai membuang-buang waktu tanpa menimbulkan manfaat.

Dia memisalkan di suatu tempat yang sudah diketahui umum di Banda Aceh, bahwa sehabis maghrib banyak warga mulai berkumpul di tempat itu hanya untuk bermain domino.

“Itu sangat mengganggu lingkungan, dan menyianyiakan waktu, juga mendekati perjudian,” ujarnya. (*)

redaksi dbcom
Penulis yang membaca