Dikritik Soal ‘Skandal’ Hukum Terkait PRT Indonesia Bikin Bos Bandara Changi Singapura Mundur

Liew pun akhirnya memilih mengundurkan diri dari jabatannya tersebut.
Bos Bandara Changi Singapura Mundur
Dikritik Soal ‘Skandal’ Hukum Terkait PRT Indonesia Bikin Bos Bandara Changi Singapura Mundur. | Foto: AFP/MIKE CLARKE

Dikritik Soal ‘Skandal’ Hukum Terkait PRT Indonesia Bikin Bos Bandara Changi Singapura Mundur

DotBerita | Banda Aceh – Pengadilan Tinggi Singapura membebaskan PRT Indonesia atas tuduhan mencuri barang-barang milik keluarga Liew Mun Leong.

Bos Changi Airport Group ini kemudian menuai banyak kritikan atas upaya hukum terhadap orang yang pernah bekerja untuknya itu.

Liew pun akhirnya memilih mengundurkan diri dari jabatannya tersebut.

Seperti dilansir dari detik.com, AFP, Minggu (13/9/2020), skandal yang melibatkan Liew ini memicu kemarahan publik Singapura dan menimbulkan banyak pertanyaan soal bagaimana sistem memperlakukan seorang pengusaha terkemuka di negara itu sangat berbeda dibandingkan dengan seorang PRT bergaji rendah.

Dengan meningkatnya seruan agar dia mengundurkan diri usai putusan terbaru pengadilan Singapura dijatuhkan pekan lalu, Liew mengumumkan mundur dari jabatannya sebagai Direktur Changi Airport Group pada Kamis (10/9) malam waktu setempat.

“Saya tidak ingin situasi saya saat ini menjadi gangguan,” ucap Liew yang berusia 74 tahun ini saat mengumumkan pengunduran dirinya. Dia juga mengumumkan mundur dari jabatannya di beberapa perusahaan lainnya, termasuk sebagai penasihat investor negara, Temasek.

Kasus yang membuat Liew dikritik ini berawal tahun 2016, saat keluarga Liew memecat seorang PRT Indonesia bernama Parti Liyani yang bekerja untuknya. Keluarga Liew menuduh Parti mencuri barang-barang mereka yang nilainya mencapai SG$ 34 ribu (sekitar Rp 372,9 juta), termasuk jam tangan dan pakaian.

Parti membantah seluruh tuduhan yang dijeratkan kepadanya. Namun dalam persidangan tahun 2019 lalu, dia dinyatakan bersalah atas empat dakwaan pencurian dan divonis lebih dari 2 tahun penjara.

Saat sidang banding digelar di Pengadilan Tinggi Singapura, hakim membatalkan putusan pengadilan yang lebih rendah dan menyatakan bahwa keluarga Liew memiliki ‘motif tidak tepat’ untuk melontarkan tuduhan terhadap Parti.

Terungkap dalam sidang banding bahwa Parti hendak melaporkan majikannya kepada otoritas berwenang saat dirinya juga diperintahkan membersihkan rumah dan kantor putra Liew.

Hal itu tergolong ilegal di Singapura, karena Parti hanya dipekerjakan untuk membersihkan rumah Liew saja. (*)

redaksi dbcom
Penulis yang membaca