Idul Adha 1441 H, Pantang tak Meugang Meski Harga Daging Tembus Rp 150 Ribu

harga daging melambung di hari meugang Idul Adha 1441 H
Warga membeli daging meugang. | Foto masakini

Idul Adha 1441 H, Pantang tak Meugang Meski Harga Daging Tembus Rp 150 Ribu

DotBerita | Banda Aceh – Meugang merupakan tradisi yang biasa dilakoni warga Aceh menyambut perayaan hari besar keagamaan. Tradisi tersebut merupakan bagian tanggung jawab kaum pria yang telah berumah tangga untuk membeli daging sapi atau kerban dan dibawa pulang ke rumah.

Meugang Idul Adha tahun ini tak jauh beda dengan tahun-tahun sebelumnya. Seperti biasanya warga Aceh sudah sejak jauh hari menyiapkan persediaan agar di hari meugang dapat membeli setumpuk daging. Pantang tak beli, lapak penjual daging pun kerap muncul secara dadakan.

Tingginya permintaan akan daging juga berimbas pada harganya yang mengalami peningkatan.

Melansir Antara, harga daging sapi pada hari meugang menyambut Idul Adha 1441 Hijriyah tahun ini yang dijual pedagang di sejumlah pasar musiman di Kota Banda Aceh tembus Rp150.000 per kilogram.

Seorang pedagang dadakan  di pinggir jalan Gampong Lamjamee, Kota Banda Aceh, kepada wartawan Kamis (30/7/2020), menyebutkan harga daging sapi mengalami kenaikan Rp30.000 per kilogram dari hari-hari sebelumnya yang hanya berkisar Rp120.000 per kilogram.

Tingginya harga jual daging tidak lantas menyurutkan niat warga membelinya. Apalagi hari “meugang”  merupakan suatu tradisi yang hingga kini masih lestari di tengah-tengah masyarakat Aceh dalam menyambut puasa, lebaran Idul Fitri dan Idul Adha, seperti tahun ini.

Hari  “meugang” juga kerap dijadikan ajang sanak keluarga untuk berkumpul dengan sajian makan bersama dengan menu berkualitas seperti daging sapi ataupun kerbau.

Namun demikian, faktor ekonomi menjadi hal paling menentukan untuk memenuhi tuntutan tradisi meugang itu. Bila di tahun-tahun sebelumnya, daging yang dibeli bisa melebihi satu kilogram, maka di kondisi ekonomi seperti sekarang banyak warga yang hanya mampu membawa pulang tidak lebih dari setengahnya saja.

“Ekonomi lagi seret, tapi daging tetap harus dibawa pulang, walau cuma mampu beli setengah kilo,” ucap Putra, warga seputaran Lampaseh yang mengaku lebih menyukai daging kerbau untuk dijadikan santapan bersama keluarganya.

Penurunan daya beli daging ini juga dirasakan Hanafiah. Kepada Antara, pedagang ini menyebutkan pembeli menurun dibandingkan hari “meugang” Idul Adha tahun lalu.

“Sebelumnya kami berani memotong tiga ekor sapi, namun meugang kali ini cuma berani menyembelih dua ekor sapi, dan ini juga khawatir tidak habis karena lemahnya daya beli,” katanya menambahkan harga daging dagangannya juga bertahan di kisaran harga Rp150.000 per kilogram.

Dilaporkan, sejumlah pasar kaget khusus daging meugang yang muncul seperti di kawasan Beurawe,  Ateuk Pahlawan dan Ulee Kareng dipadati pembeli. Sebagian pengunjung dan pedagang disebutkan tampak tidak mematuhi protokol kesehatan di tengah-tengah pandemi COVID-19.

Sementara untuk harga kebutuhan dapur seperti kelompok sayur-mayur, cabai merah, bawang merah, telur ayam ras dan tomat relatif masih stabil. Cabai merah bertahan dengan harga Rp45 ribu per kilogram, cabai hijau Rp35 ribu, tomat Rp12 ribu dan bawang merah Rp48 ribu. (*)

redaksi dbcom
Penulis yang membaca