Mapesa Desak DPRK Banda Aceh Turun Tangan Selamatkan Situs Sejarah Gampong Pande

DPRK Banda Aceh diminta turun tangan selamat situs sejarah Aceh di Gampong Pande
Anggota Mapesa melakukan perawatan situs sejarah Aceh yaitu Makam Sundusu Balad di Gampong Pande. | Foto for DotBerita

Mapesa Desak DPRK Banda Aceh Turun Tangan Selamatkan Situs Sejarah Gampong Pande

DotBerita | Banda Aceh – Masyarakat Peduli Sejarah Aceh (Mapesa) mendesak DPRK Kota Banda Aceh segera turun tangan menyikapi persoalan situs bernilai sejarah keemasan Aceh masa lalu yang berada gampong Pande.

Komunitas pecinta sejarah Aceh itu menilai wakil rakyat Banda Aceh perlu turun tangan dengan membentuk Panitia Khusus untuk menyelamatkan cagar budaya sejarah Aceh melalui pembentukan perundang-udangan khusus.

Ketua Mapesa, Mizuar Mahdi dalam pernyataan tertulisnya yang diterima redaksi DotBerita, Kamis (30/7/2020) mengatakan, persoalan kawasan cagar budaya di gampong Pande bukan hanya sebatas sejarah lokal di Aceh, namun juga merupakan bagian dari sejarah ummah.

“Gampong Pande adalah salah satu bekas kota Islam yang pernah bersinar di masa lalu. Di gampong Pande ini terekam banyak peristiwa masa lampau baik masa penyebaran Islam di Bilad al Jawi (Asia Tenggara), masa kejayaan dan keemasan Aceh hingga sejarah tsunami purba,” ujar Mizuar, yang merupakan putra Aceh kelahiran Bitai, Banda Aceh.

Mapesa Aceh desak kepedulian pemerintah terhadap cagar budaya dan situs sejarah Aceh.
Kompleks Makam Syaikh Tun Kamil-Sitti Ula Sya-Syaikhul ‘Askar Jamaluddin

Dia berharap semua pihak memprioritaskan dan fokus dalam upaya penyelamatan kawasan Gampong Pande dari ancaman pemusnahan baik oleh pasang surut air laut maupun ancaman tangan-tangan jahil.

Mizuar menyebut, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Banda Aceh bersama Disbudpar Aceh, BPNB Aceh-Sumut, Balar Medan dan BPCB Aceh-Sumut harus berpikir untuk menyelamatkan dan mengembangkan kawasan cagar budaya di Gampong Pande sebagai kawasan sejarah yang dilindungi undang-undang.

Dia mengatakan, menaruh apresiasi atas kunjungan Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Kota (DPRK) Banda Aceh, Ust Farid Nyak Umar pada Rabu (29/7/2020) yang melakukan peninjauan langsung ke lokasi cagar budaya dan situs sejarah yang berada di Gampong Pande.

Menurutnya, cagar budaya tersebut kini terancam akan ditimbun oleh developer untuk pembangunan perumahan.

Makam Sundusu Balad 2

“Dalam hal ini kami berharap pihak legislatif tidak hanya sebatas melihat, meninjau dan memberikan statement di media saja. namun pihak legislatif mesti mendesak Walikota untuk menyelamatkan kawasan Gampong Pande. Kami bahkan berharap kawan-kawan legislatif membentuk Pansus untuk kasus gampong (pande) ini,” tegas Mizuar.

Mizuar juga menyampaikan, banyak benda-benda bersejarah teramat penting yang ditemukan di kawasan Gampong Pande, seperti penemuan ribuan keping koin emas tahun 2013 dan pecahan keramik dan gerabah, manik dan batu mulia yang merupakan perhiasan yang pernah digunakan pada masa lalu.

Mapesa, sebut Mizuar, bahkan berhasil menemukan puluhan nisan tokoh yang belum pernah disebutkan dalam buku sejarah Aceh selama ini.

Makam Tun Rahmatullah ad-Du’aliy

Adapun nisan tokoh-tokoh dimaksud hidup pada abad ke 16 seperti, makam Syaikh Tun Kamil wafat 930 H (1524 M), Syaikhul ‘Askar, seorang ulama yang ditugaskan sebagai instruktur laskar (angkatan bersenjata) Kerajaan Aceh Darussalam yang bergelar Jamaluddin wafat tahu 951 H (1544 M).

Kemudian Sitti Ula Syah bin Sultan ‘Alauddin Ri’ayat Syah bin Sultan ‘Ali Mughayat Syah, Tun Rahmatullah ad-Du’aliy ulama asal Kabilah Kinanah, Syaikh Faqih Muhannad al-Farnawi Ulama ahli Fiqh asal jazirah Arab wafat 940 H (1534 M).

“Baru-baru ini kami menemukan makam Syah Bandar Bandahara Arya penguasa Pelabuhan Bandar Aceh Darussalam yang wafat pada 2 Ramadhan 964 Hijriah (1557 Masehi),” ujarnya. (*)

redaksi dbcom
Penulis yang membaca