Pelaku Pembunuhan Sadis 51 Muslim di Masjid Selandia Baru Ini Diganjar Penjara Seumur Hidup

Hukuman atas aksi teror yang dilakukan ‘monster’ itu dijatuhkan tanpa peluang pembebasan bersyarat.
Pelaku Pembunuh Sadis 51 Muslim di Masjid Selandia Baru Ini Diganjar Penjara Seumur Hidup
Foto: Pelaku pembunuhan keji 51 muslim di Selandia Baru, Brenton Tarrant | AP Photo

DotBerita| Wellington – Pelaku pembunuhan sadis Brenton Harrison Tarrant diganjar hukuman penjara seumur hidup setelah membantai 51 muslim di dua masjid di Selandia Baru. Hukuman atas aksi teror yang dilakukan ‘monster’ itu dijatuhkan tanpa peluang pembebasan bersyarat.

Melansir detikcom dari Associated Press (AP), Kamis (27/8/2020), hakim setempat memberikan hukuman maksimum kepada pria penganut supremasi kulit putih asal Australia itu.

Hukuman penjara seumur hidup itu merupakan pertama kalinya diterapkan di Selandia Baru.

Hakim Cameron Mander menyebut kejahatan Tarrant begitu keji sehingga perbuatannya tidak bisa menebus hukuman sekali pun dipenjara seumur hidup.

Dia juga mengatakan bahwa Tarrant telah menyebabkan luka yang sangat besar dan berasal dari ideologi yang menyesatkan dan ganas.

“Tindakan Anda tidak manusiawi,” kata Mander. “Anda sengaja membunuh bayi berusia 3 tahun saat dia menempel di kaki ayahnya,” imbuh hakim.

Serangan pada Maret 2019 yang menargetkan orang-orang yang salat di masjid Al Noor dan Linwood tersebut telah membuat Selandia Baru geger.

Peristiwa brutal ini juga mendorong undang-undang baru yang melarang jenis senjata semi-otomatis paling mematikan. Kejadian itu juga mendorong perubahan global pada protokol media sosial setelah pria bersenjata itu menyiarkan langsung serangannya di Facebook.

Baca Juga:

Selama sidang vonis yang berlangsung empat hari, 90 orang yang selamat dan anggota keluarga menceritakan kengerian serangan dan trauma yang terus mereka rasakan.

Saat peristiwa terjadi, beberapa orang memilih untuk meneriaki pria bersenjata itu dan mengacunginya jari tengah. Yang lain memanggilnya monster, pengecut, tikus.

Beberapa lainnya bahkan menyanyikan ayat-ayat Alquran atau menyapanya dalam bahasa Arab.

Akan tetapi beberapa orang juga disebut telah berbicara dengan lembut kepada Tarrant, dan mengatakan mereka memaafkannya.

Tarrant sebelumnya telah memecat pengacaranya dan memberi tahu hakim bahwa dia tidak ingin berbicara di persidangan.

Seorang pengacara siaga yang ditunjuk oleh pengadilan mengatakan kepada hakim bahwa Tarrant tidak menolak hukuman seumur hidup tanpa pembebasan bersyarat. (*)


Baca selanjutnya: