Putra Jokowi Belum Punya Lawan di Pilkada Solo, Aktivis Nyatakan Siap Dukung Kotak Kosong

Aktivis Solo siap bergerak dukung kotak kosong di Pilkada Solo 2020
Gibran Rakabuming dan Teguh Prakosa. | Foto Bayu Ardi Isnanto/detikcom

Putra Jokowi Maju Punya Lawan di Pilkada Solo, Aktivis Nyatakan Siap Dukung Kotak Kosong

DotBerita | Solo – Perhelatan Pilkada Solo yang akan digelar pada Desember tahun 2020 ini baru memunculkan satu pasangan Gibran Rakabuming Raka-Teguh Prakosa. Ini artinya pasangan tersebut berpotensi akan melawan kotak kosong apabila hingga batas pendaftaran berakhir tidak ada pasangan lain yang muncul.

Sejumlah aktivis kota pun mengungkapkan keprihatinan dan menyatakan siap mendukung kotak kosong.

Melansir detikcom, Pilkada Solo 2020 berpotensi hanya memunculkan calon tunggal, yakni pasangan Gibran Rakabuming Raka-Teguh Prakosa yang diusung PDIP. Sejumlah aktivis kota muncul siap bergerak untuk mengampanyekan kotak kosong.

Dukungan terhadap kotak kosong itu, salah satunya datang dari aktivis budaya Kota Solo, Zen Zulkarnaen. Menurutnya, kemunculan sosok calon tunggal adalah bukti sistem demokrasi yang tidak berfungsi.

“Saya pikir, kalau tidak ada penyeimbang, itu tidak sehat untuk demokrasi. Saya mendorong kotak kosong dalam konteks seperti itu. Jadi ada pihak yang mengkritisi dalam konteks demokrasi,” kata Zenzul, sapaannya, dikutip detikcom, Kamis (6/8/2020).

Semua parpol dukung putra Jokowi

Kondisi perpolitikan di Solo menurut Zenzul, hingga hari ini tampak tidak sehat. Sebab, hampir seluruh partai politik mendukung pasangan putra Jokowi. Belum lagi adanya sukarelawan hingga tim yang aktif di media sosial.

“Ini sebagai harapan akan adanya aspirasi masyarakat. Kalau saat ini kan sangat oligarkis. Jadi kotak kosong sebagai koreksi. Kalau suara kotak kosong besar, parpol dan elite wajib mengoreksi,” tutur dia.

Kendati begitu, Zenzul menegaskan, apa yang dia lakukan bukan sebagai kampanye golput. Jika betul Gibran melawan kotak kosong, justru dia berharap masyarakat berbondong-bondong ke TPS mencoblos kotak kosong.

Karena, menurut dia, kalau golput tidak begitu memberi koreksi. Hasilnya tetap jadi. Sementara gerakan kotak kosong artinya ada perlawanan.

“Kalau ternyata menang, pilkada harus tunda, batal, harus ada koreksi pada pilkada selanjutnya,” katanya.

Politik dinasti

Hal senada disampaikan pegiat kota lainnya, Andi Setiawan. Bahkan dia menilai kondisi saat ini sudah menunjukkan sistem oligarki dan politik dinasti.

Andi yang dosen di salah satu perguruan tinggi di Solo itu mengatakan tidak mempermasalahkan sosok Gibran. Namun dia ingin mengkritik sistem demokrasi yang tidak berfungsi baik di Solo.

“Silakan kalau bilang bukan politik dinasti, tetapi faktanya seperti itu, demokrasi semakin formalistik. Bagi saya ini sebuah kemunduran,” katanya.

Dia menuturkan, terkait dukungan untuk kotak kosong, lebih merupakan sebagai cara menertawakan tidak berfungsinya sistem demokrasi.

“Sebenarnya bukan kampanye kotak kosong, tetapi ini lebih pada menertawakan demokrasi. Karena pilkada menjadi tidak substansial. Jadi ditertawakan saja,” tandasnya. (*)

redaksi dbcom
Penulis yang membaca