Wajib Tahu! Gejala Omicron Ini Mengintai Malam Anda

Sekalipun untuk saat ini penyebaran COVID-19 di Indonesia sudah menunjukkan tren penurunan, namun Anda tetap perlu berhati-hati dengan gejala Omicron yang satu ini.
Gejala Omicron
ILUSTRASI - Gejala Omicron Ini Mengintai Malam Anda. | Foto: Getty Images/iStockphoto/MCCAIG

Dotberita.com, KESEHATAN | Wajib Tahu! Gejala Omicron Ini Mengintai Malam Hari.

Penyebaran COVID-19 varian Omicron masih dikhawatirkan banyak warga di Indonesia. Berikut gejala Omicron yang muncul pada malam hari.

Sekalipun untuk saat ini penyebaran COVID-19 di Indonesia sudah menunjukkan tren penurunan, namun Anda tetap perlu berhati-hati dengan gejala Omicron yang satu ini.

BACA JUGA: Ternyata 10 Negara Ini Aman dari Bahaya Corona, Indonesia di Posisi Berapa? 

Beberapa gejala Omicron ditandai dengan batuk dan berkeringat dalam jumlah berlebih. Gejala Omicron ini terjadi pada malam hari.

Dilansir dari detik.com, gejala COVID-19 Omicron juga bisa muncul pada malam hari. Ciri-ciri ini mulanya diidentifikasi seorang dokter umum Uben Pilley asal Afrika Selatan di awal-awal kasus Omicron merebak.

Selain mengeluhkan gejala COVID-19 batuk, pilek dan sakit tenggorokan, pasien Omicron mengeluarkan keringat begitu banyak di malam hari, diikuti dengan batuk kering hingga nyeri tubuh.

BACA JUGA: Heboh Corona, Model Jepang Ini Menciptakan Masker Modifikasi dari Bra Bekas, Simak Tutorialnya 

Dokter meminta seseorang mewaspadai jika ada keluhan keringat berlebihan di malam hari sebagai gejala Omicron. Beberapa kasus bahkan membuat tempat tidur bisa menjadi basah kuyup karena keringat.

Seorang dokter asal Inggris, dr Amir Khan, juga mengungkap banyak pasien yang mengeluhkan gejala berkeringat di malam hari. Saat gejala muncul, pasien tentu menjadi sulit tidur.

“Keringat malam yang basah kuyup, di mana Anda mungkin harus bangun dan berganti pakaian,” ungkap dr Khan.

Kabar baiknya, dokter Pillay mengatakan bahwa orang yang sudah divaksinasi booster cenderung memiliki gejala COVID-19 lebih ringan.

BACA JUGA: China Tak Akui Hancurkan Ribuan Masjid di Xinjiang

Data awal menunjukkan bahwa suntikan booster terhadap COVID-19 memberikan perlindungan ekstra terhadap penyakit tersebut.

Belakangan juga muncul kekhawatiran ‘anak Omicron’ yakni BA.2 yang diyakini lebih cepat menular dan berisiko gejala lebih berat.

Namun, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) hingga kini memastikan varian BA.2 tersebut kemungkinan memiliki karakteristik serupa dengan varian Omicron awal.

“Kita tahu bahwa virus ini menyebar ke bagian tubuh yang berbeda. Ada kemungkinan Omicron atau varian lain menyerang usus, dan ini tidak akan terlihat di hidung, jadi bisa terkena infeksi usus namun tidak terlihat positif,” ujar profesor Tim Spector kepada The Sun. (*)